DBOKC FSPTSI Serap Keluhan Kesah Sopir Logistik Terkait UU ODOL

  • Whatsapp
Ketua DBOKC FSPTSI Ika Restianti saat diskusi bersama para sopir di Banyuwangi, Jawa Timur
banner 468x60

Banyuwangi, MP – Organisasi Driver Bikers Ojek Kamtibmas Community (DBOKC) Federasi Serikat Pekerja Transport Seluruh Indonesia (FSPTSI) mengadakan diskusi ringan bersama sejumlah pengemudi logistik di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (12/12/2021).

Dalam pertemuan itu, para pengemudi menceritakan keresahan mereka terkait pemberlakuan Undang-Undang tentang Over Dimensi dan Over Load (UU ODOL).

Read More
banner 300250

“Sejak ada UU ODOL, kami pengemudi logistik mandiri jadi resah, karena kami kehilangan mata pencaharian kami bu. kami ini orang kecil bu, armada yang kami punya ya modal kami cari makan,” kata salah seorang sopir logistik Banyuwangi, Slamet, dalam pertemuan tersebut.

“Dengan UU ODOL ini armada kami jadi ga berguna sedangkan untuk punya mode armada terbaru sesuai aturan pemerintah kan butuh dana besar lagi bu,” lanjut Slamet menyampaikan keluhannya kepada Ketua DBOKC FSPTSI Ika Restianti.

Mendengar keluhan para sopir tersebut, Ika Restianti menjelaskan bahwa DBOKC FSPTSI akan mengkomunikasikannya dengan Kementerian Perhubungan sebagai regulator pembuat kebijakan.

“Terkait kebijakan UU ODOL kemenhub yg terbaru DBOKC FSPTSI tentunya merespon dengan baik karena memang tujuannya demi keselamatan para pengemudi itu sendiri di jalan. Akan tetapi sebaiknya pemerintah juga menyertakan solusi atas permasalahan baru yang lahir dari kebijakan tersebut, terutama imbasnya bagi para pengemudi,” ungkap Ika Restianti.

Ika juga menegaskan penerapan kebijakan UU ODOL sebaiknya tidak hanya menyasar pada pengemudinya saja, tetapi juga kepada para pengusaha dan perushaaan-perusahaan atau industri yan menjadi mitra para pengemudi logistik tadi.

“Pengemudi tentunya senang-senang saja ketika mereka bisa jalan dengan muatan ringan dan bayaran sesuai. Masalahnya, banyak pengusaha atau perusahaaan yang enggak mau tau terkait hal ini. Biaya angkut yang murah dengan muatan seadanya sering menjadi polemik bagi para pengemudi dalam mengambil pekerjaan antar barang,” jelas Ika.

“Kasian mereka itu, sopir sering jadi pihak yang kurang beruntung karena berada di tengah-tengah antara ingin patuh terhadap aturan negara dan tawaran dari mitra kerja mereka, yang tentu saja hal ini terkait urusan perut anak istri dan mereka sendiri ” jelas Ika Restianti.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *