FSPTSI-KSPSI Apresiasi MK: UU Cipta Kerja Wajib Diperbaiki Paling Lambat 2 Tahun

  • Whatsapp
Ketua Umum FSPTSI-KSPSI HM. Jusuf Rizal saat diwawancara wartawan dalam sebuah acara (dok.MP)
banner 468x60

Jakarta, MP – Federasi Serikat Pekerja Transport Seluruh Indonesia (FSPTSI)-KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) memberi apresiasi atas keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap gugatan UU Cipta Kerja yang dilakukan serikat pekerja. MK memutuskan UU tersebut harus diperbaiki selama dua tahun serta UU tersebut dinyatakan tidak berlaku hingga turunannya.

“FSPTSI-KSPSI juga memberi apresiasi atas perjuangan para serikat pekerja yang tidak pernah lelah dan putus asa memperjuangkan masa depan para pekerja,” tegas HM.Jusuf Rizal, Ketua Umum FSPTSI-KSPSI kepada media di Jakarta, Kamis (25/11/2021).

Read More
banner 300250

Menurut aktivis pekerja dan buruh berdarah Madura-Batak itu, keputusan MK patut dirayakan karena itu merupakan kemenangan pekerja dan buruh, sekaligus menunjukkan independensi MK.

Sejak awal, lanjut Jusuf Rizal yang juga Waketum KSPSI, terdapat perbedaan di dalam serikat pekerja. Sebagian mendukung, sebagian lagi menolak.

“Dan lewat keputusan ini menunjukkan bahwa apa yang diyakini serikat pekerja yang menolak telah dikabulkan MK meski tidak secara keseluruhan,” tegas Jusuf Rizal yang juga Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) itu

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja inkonstitusional secara bersyarat.

Putusan itu dibacakan oleh Ketua MK Anwar Usman dalam sidang uji formil UU Ciptakan Kerja yang disiarkan secara daring pada Kamis (25/11/2021).

“Menyatakan pembentukan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat secara bersyarat, sepanjang tidak dimaknai tidak dilakukan perbaikan dalam waktu dua tahun sejak putusan ini diucapkan,” kata Anwar.

Setidaknya ada lima poin penting dalam putusan MK itu, yakni: Pertama, mengabulkan sebagian permohonan; Kedua, UU 11/2020 inkonstitusional bersyarat; Ketiga, perbaikan 2 (dua) tahun, jika tidak selesai perbaikannya maka inkonstitusional permanen semenjak putusan ini.

Keempat, UU/Pasal/materi yang diubah dengan UU 11/2020 berlaku kembali; dan Kelima, menangguhkan segala tindakan dan kebijakan yang bersifat strategis dan berdampak luas, serta tidak boleh adanya pembuatan peraturan pelaksanaan yang baru.

Adapun dalam pertimbangannya, Mahkamah menilai, metode penggabungan atau omnibus law dalam UU Cipta Kerja tidak jelas apakah metode tersebut merupakan pembuataan UU baru atau melakukan revisi.

Mahkamah juga menilai dalam pembentukannya, UU Cipta Kerja tidak memegang asas keterbukaan pada publik meski sudah melakukan beberapa pertemuan dengan beberapa pihak. Sebab pertemuan itu dinilai belum sampai pada tahap substansi UU. Begitu pula dengan draf UU Cipta Kerja juga dinilai Mahkamah tidak mudah diakses oleh publik.

Oleh karena itu, Mahkamah menyatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional bersyarat selama tidak dilakukan perbaikan dalam jangka waktu dua tahun setelah putusan dibacakan.

Apabila dalam jangka waktu dua tahun tidak dilakukan perbaikan, UU Cipta Kerja tersebut akan otomatis dinyatakan inkonstitusional bersyarat secara permanen.

Mahkamah juga menyatakan, seluruh UU yang terdapat dalam Omnibus Law UU Cipta Kerja tetap berlaku sampai dilakukan perbaikan.

Anwar pun menyatakan untuk menangguhkan segala tindakan kebijakan yang bersifat strategis dan berdampak luas dari UU Cipta Kerja. Tidak dibenarkan pula menerbitkan peraturan pelaksana baru yang berkaitan dengan UU Ciptakan Kerja.

“Menyatakan apabila dalam tenggang waktu dua tahun pembentuk Undang-Undang tidak dapat menyelesaikan perbaikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja maka Undang-Undang atau pasal-pasal atau materi muatan Undang-Undang yang telah dicabut atau diubah oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja harus dinyatakan berlaku kembali,” tandas Anwar.

Judisial Review UU Cipta Kerja sendiri diajukan oleh lima penggugat terdiri dari seorang karyawan swasta bernama Hakiimi Irawan Bangkid Pamungkas, seorang pelajar bernama Novita Widyana, serta tiga orang mahasiswa, yakni Elin Diah Sulistiyowati, Alin Septiana, dan Ali Sujito.

Sebagai pemohon I, Hakiimi Irawan Bangkid Pamungkas khawatir berlakunya UU Cipta Kerja dapat menghapus ketentuan aturan mengenai jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak.

Kerugian hak konstitusional Hakiimi antara lain seperti terpangkasnya waktu istirahat mingguan, menghapus sebagian kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja atau buruh, menghapus sanksi bagi pelaku usaha yang tidak bayar upah.

Kemudian, pemohon II yakni Novita Widyana yang merupakan pelajar merasa dirugikan karena setelah lulus ia berpotensi menjadi pekerja kontrak tanpa ada harapan menjadi pekerja tetap.

Adapun pemohon III, IV, dan V yang adalah mahasiswa di bidang pendidikan, yaitu Elin Diah Sulistiyowati, Alin Septiana, dan Ali Sujito, merasa dirugikan karena sektor pendidikan masuk dalam UU Cipta Kerja.

Mereka menilai dengan masuknya klaster pendidikan di UU Cipta Kerja, maka berpotensi membuat pendidikan menjadi ladang bisnis.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *