Napak Tilas Pejuang Siliwangi Bogor, Suku Baduy Tagih Janji Pemerintah Kembali ke Desa Adat

  • Whatsapp
banner 468x60

Banten, MajalahPerwira – Napak Tilas Pejuang Siliwangi Indonesia Kabupaten Bogor di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten, itu sesungguhnya merupakan telah lama direncanakan untuk bersilaturahmi dengan tetua adat Masyarakat Baduy.

“Suku Baduy memiliki historis kedekatan secara emosional dengan Pejuang Siliwangi Indonesia ketika masih bernama Partisan Siliwangi yang berdiri sejak 2 Juli 1922,” ujar H.Usup Ketua Pejuang Siliwangi Indonesia Kabupaten Bogor kepada Team LiraNews yang diterima di Sekretariat DPC PS-Indonesia Kab.Bogor Jl. Cikopo Selatan Kp.Sakabirus RT. 001/001 Desa Sukamahi Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor, Selasa (14/12/2021).

H.Usup yang juga masih aktif sebagai ASN di Kota Bogor menjelaskan lebih jauh bahwa dalam rangka menghadapi penghujung tahun 2021 maka DPC PS-Indonesia Kab.Bogor menyelenggarakan Napak Tilas ke wilayah Suku Baduy pada tanggal 11-12 Desember 2021. “Alhamdulillah diterima langsung oleh Tetua Adat Abah Saidi Tanggungan Jaro 12 bahkan rombongan pengurus 9 orang bermalam di kediaman beliau,” tuturnya.

Abah Saidi Tanggungan Jaro 12 (Panglima Suku Baduy baik baduy dalam maupun baduy luar) yang dipercaya oleh 3(tiga) Tangtu yaitu Puun Yasik (Cikeusik), Puun Arna (Cikartawarna) dan Puun Jahadi (Cibeo). Tiga Tangtu ini yang menguasai tiga wilayah Baduy dalam ini merupakan satu kesatuan yang sampai saat ini masih sangat kokoh mempertahankan Adat Leluhur yang tidak terkontaminasi dengan perkembangan zaman.

Lain halnya dengan Suku Baduy luar yang telah membaur dengan masyarakat luar terutama perbatasan dengan desa Bojong Menteng. Abah Saidi Tanggungan Jaro 12 yang bertanggung jawab terhadap Baduy dalam dan Baduy luar ternyata selama ini banyak aktivitas kemasyarakatan diluar area Kawasan Suku Baduy, baik menghadiri undangan keluar maupun menerima para komonitas yang bertandang ke wilayahnya.

Desa Kanekes semula merupakan daerah trisolasi dari dunia luar mereka sangat berpegang teguh terhadap adat leluhur yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kesucian dan kearifan lokal terhadap alam lingkungannya. Perjalanan waktu telah menghantarkan perubahan tatananan masyarakat yang diawali perubahan Desa adat menjadi Desa Umum sejak tahun 2009 lalu.

Semula masyarakat adat berharap dapat mensenergikan tata kehidupan yang tertib secara administrasi pemerintahan dengan tidak mengurangi nilai-nilai budaya/adat istiadat yang selama ini mereka anut dan yakini, terutama tentang Kejujuran, Kesucian dan Keutuhan alam.

Keinginan para tetua adat Desa Kanekes yang terbagi 3(tiga) Tangtu yaitu Puun Yasik Cikeusik, Puun Arna Cikartawarna dan Puun Jahadi Cibeo untuk mengembalikan status Desa Umum menjadi kembali Desa Adat bukan tanpa alasan yang kuat.

Tokoh Adat Tanggungan Abah Saidi Jaro 12

“Hal tersebut telah disampaikan sejak tahun 2014 Presiden RI. Pak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan mendapat respon yang baik dan disetujui. Pertemuan langsung dengan Presiden RI. Jokowi sudah 4 kali juga disetujui “saya heran kenapa sampai sekarang belum terlaksana Kembali ke Desa Adat,” kata Tokoh adat ini keheranan.

Kepala Desa Kanekes Saija mengatakan, saat ini bahwa keinginan untuk kembali ke Desa Adat terutama dari wilayah Baduy dalam yaitu 3 kampung. Sementara Desa Kanekes memiliki 13 RW dan 68 Kampung (68 RT).

“Namun demikian sejauh yang kami ketahui tentang proses kembalinya dari Desa Umum telah dibahas di DPRD Kabupaten Lebak. Proses PERDA tersebut telah selesai kemungkinan awal tahun 2022 bisa keluar,” sebutnya mengakhiri pembicaraan via telpon. LN-TIM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *