Saleh Daulay Dorong Kemenkes dan BPOM Segera Selesaikan Uji Klinis dan Beri EUA pada Ivermectin

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, MajalahPerwira – Pemerintah didorong untuk melakukan berbagai upaya dalam mengendalikan dan mengurangi laju penyebaran virus Covid-19. Selain mempercepat pelaksanaan vaksinasi, hal lain yang perlu diseriusi adalah penyediaan obat-obatan bagi masyarakat yang terpapar. Terkait hal ini, ada beberapa obat yang selama ini dinilai mampu menyembuhkan orang yang terpapar Covid.

Demikian dikatakan Ketua F-PAN DPR RI Saleh Partaonan Daulay kepada para awak media, Senin (19/7/2021).

Read More

banner 300250

Saleh mengungkapkan, dalam Rapat Kerja (Raker) tanggal 13 Juli 2021 antara Komisi IX DPR RI bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan BPOM, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memaparkan ada 8 jenis obat yang dipergunakan untuk mengobati pasien Covid.

“Kedelapan obat itu adalah Azythromycin, Multivitamin, Ivermectin, Oseltamivir, Remdesivir, Favipiravir, IV Immunogobulin (IVIg), danTocilizumab (Actemra). Menurut Menkes, obat-obatan tersebut perlu suplai tambahan sehingga kebutuhannya dapat terpenuhi,” kata Saleh.

Dari kedelapan jenis obat yang dipaparkan Menkes tersebut, lanjut Saleh, Ivermectin menjadi salah satu yang menarik.

Sebab, jelas Ketua DPP PAN ini, ketika Menkes memaparkan itu sama artinya, obat tersebut benar-benar dibutuhkan. Bahkan, bisa jadi telah diberikan ke banyak pasien yang terpapar.

“Anehnya, di lapangan Ivermectin itu diperdebatkan. Kalau sudah dipergunakan, semestinya yang perlu dilakukan adalah studi lanjutan. Termasuk uji klinis dan Emergency Use Authorization-nya,” terang Saleh.

Berkenaan dengan itu, Saleh menghimbau, Kemenkes dan BPOM untuk segera mempercepat proses uji klinis terhadap Ivermectin.

Pasalnya, beber Saleh, di banyak negara Ivermectin sudah banyak dipergunakan, dan berdasarkan laporan yang ada, Ivermectin sejauh ini dinilai efektif untuk menyembuhkan orang yang terpapar Covid-19.

“Harus ada percepatan dan pemotongan birokrasi yang tidak perlu. Bagus juga jika dilakukan benchmark dengan negara-negara lain yang sudah lebih dahulu berhasil dan telah mengeluarkan EUA. Dalam situasi seperti ini, harus ada sense of emergency-nya. Pandemi tidak bisa diatasi dalam format business as usual,” papar Wakil Ketua MKD DPR RI ini.

Saleh mengaku, sebetulnya dirinya senang mendengar uji klinis terhadap Ivermectin sedang dilakukan di delapan rumah sakit.

“Tentu ini sudah baik. Namun akan lebih baik lagi jika prosesnya dipermudah agar segera bisa diperoleh kesimpulan secara akademik. Dan pada akhirnya, EUA bisa juga segera dikeluarkan,” tukas anggota Komisi IX DPR RI ini.

Saleh menilai, keberadaan Ivermectin sebagai obat Covid sangat penting di tengah meningkatnya eskalasi orang yang terpapar, kebutuhan obat memang sangat mendesak.

“Apalagi, Ivermectin ini adalah obat yang sangat murah yang dapat diakses masyarakat,” tutur Saleh.

Dari jenis-jenis obat lainnya, tambah Saleh, dirinya mendapat informasi Ivermectin yang paling murah dan bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.

“Karena itu, ketersediaannya harus dijaga agar tidak terjadi kelangkaan. Kalau langka, ya harganya nanti bisa naik. Di sini letak pentingnya peran kemenkes dan BPOM untuk mengawal agar obat ini tersedia dalam jumlah yang cukup,” pungkas Saleh Daulay. MP-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *